Breaking News

Asian Games 2026 Ditutup: Indonesia Lampaui Target, tetapi Prestasi Merah Putih Justru Menurun.

Games Asia 1791106267590 169
Upacara penutupan Asian Games 2026. (REUTERS/Chalinee Thirasupa)
Bagikan
Lihat Tersimpan

https://jktnews.com  — Asian Games 2026 Aichi-Nagoya, Jepang, resmi berakhir pada Minggu (4/10/2026). Indonesia menutup pesta olahraga terbesar di Asia dengan membawa pulang 39 medali, terdiri dari lima emas, 11 perak dan 23 perunggu.

Raihan tersebut memang melampaui target pemerintah yang menetapkan empat medali emas.   Namun, di balik keberhasilan memenuhi target, terdapat catatan yang tidak bisa diabaikan. Posisi Indonesia justru merosot dibanding Asian Games 2022 di Hangzhou, China.

Indonesia yang empat tahun lalu menempati peringkat ke-13 dengan tujuh emas, kini harus puas berada di peringkat ke-16 dengan lima emas.

Dengan demikian, Aichi-Nagoya memberikan dua wajah bagi olahraga Indonesia: target jangka pendek berhasil dilewati, tetapi performa secara keseluruhan belum menunjukkan peningkatan dibanding edisi sebelumnya.

Lima Emas Belum Cukup Mengangkat Posisi Indonesia

Lima emas Indonesia berasal dari sejumlah cabang olahraga andalan sekaligus cabang yang memberikan kejutan.

Emas pertama datang dari beregu putra bulu tangkis, kemudian Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin menyumbangkan emas dari nomor ganda putra.

Dua emas lainnya datang dari angkat besi melalui Rahmat Erwin Abdullah dan panjat tebing melalui Desak Made Rita Kusuma Dewi.  Sementara emas kelima menjadi catatan sejarah baru dari panahan melalui Nurisa Dian Ashrifah, yang membawa Indonesia meraih emas Asian Games pertama dari cabang tersebut.

Rahmat Erwin bahkan tampil luar biasa dengan memecahkan rekor dunia pada angkatan snatch dan clean and jerk di kelas 75 kilogram.  Desak Made Rita juga memberikan kemenangan dramatis setelah finis dengan waktu 6,062 detik, hanya unggul 0,002 detik atas wakil China.

Target Terlampaui, Tetapi Ranking Merosot

Di sinilah evaluasi besar harus dimulai.   Pada Asian Games Hangzhou 2022, Indonesia meraih tujuh emas, 11 perak dan 18 perunggu. Saat itu, Merah Putih berada di posisi ke-13.

Empat tahun kemudian, jumlah emas turun menjadi lima. Total medali memang meningkat menjadi 39, tetapi Indonesia justru turun tiga peringkat ke posisi ke-16.

Artinya, ukuran keberhasilan tidak bisa berhenti pada tercapainya target empat emas.  Sebab, target tersebut pada dasarnya adalah batas minimal yang ditetapkan sebelum kontingen berangkat.

Jika olahraga nasional ingin naik kelas di Asia, ukuran yang lebih penting adalah peningkatan jumlah emas, kualitas persaingan antarcabang, serta kemampuan mempertahankan prestasi dari satu Asian Games ke Asian Games berikutnya.

Thailand Masih Menjadi Raja Asia Tenggara

Indonesia juga harus melihat perkembangan negara-negara Asia Tenggara.

Thailand menjadi negara Asia Tenggara dengan posisi terbaik di Asian Games 2026. Negeri Gajah Putih mengoleksi 18 emas, 13 perak dan 21 perunggu dan berada di peringkat ketujuh.

Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa persaingan olahraga kawasan semakin ketat.

Indonesia memiliki jumlah penduduk dan basis talenta yang besar. Namun, modal demografis tersebut belum otomatis menghasilkan prestasi yang konsisten di tingkat Asia.

Persoalannya kemudian bukan sekadar mencari atlet berbakat, tetapi bagaimana membangun sistem pembinaan yang mampu menghasilkan atlet elite secara berkelanjutan.

China Kembali Menunjukkan Kekuatan

Di level teratas, China kembali menjadi juara umum dengan 169 emas, 89 perak dan 83 perunggu, atau total 341 medali.

Jepang sebagai tuan rumah berada di posisi kedua dengan 83 emas, sementara Korea Selatan menempati peringkat ketiga dengan 39 emas. India dan Uzbekistan melengkapi lima besar.

Dominasi tersebut menunjukkan betapa jauhnya jarak antara Indonesia dan negara-negara dengan sistem pembinaan olahraga yang matang.

Persaingan bukan hanya terjadi di satu atau dua cabang olahraga. Negara-negara tersebut memiliki kedalaman prestasi di berbagai disiplin.  Indonesia masih sangat bergantung pada sejumlah cabang tertentu untuk mendulang emas.

Aichi-Nagoya Juga Menyisakan Pelajaran

Asian Games 2026 sendiri bukan tanpa persoalan.  Sekitar 17.000 atlet dan ofisial berpartisipasi dalam ajang tersebut. Penyelenggara menghadapi masalah akomodasi dan transportasi karena tidak menyediakan satu kampung atlet khusus. Sejumlah peserta bahkan ditempatkan di hotel, unit kontainer dan kapal pesiar.

008334600 1790783408 AP26273453240370
Peraih medali emas Desak Made Rita Kusuma Dewi dari Indonesia berpose di podium saat upacara penyerahan medali final nomor speed putri Asian Games 2026 di Nagoya, Jepang, Rabu (30/9/2026). (AP Photo/Dita Alangkara)

Meski menghadapi berbagai persoalan logistik, Olympic Council of Asia (OCA) tetap menilai penyelenggaraan Aichi-Nagoya sebagai keberhasilan.

Ajang tersebut juga mencatat 54 rekor dunia dan 89 rekor kontinental, sementara pendapatan disebut meningkat hampir 20 persen dibanding Asian Games Hangzhou.

Asian Games 2026 juga memperkenalkan sejumlah cabang baru, termasuk padel, surfing, dan mixed martial arts, yang menunjukkan perubahan lanskap olahraga Asia.

Pekerjaan Rumah Indonesia Dimulai Setelah Medali Dibawa Pulang

Bagi Indonesia, pekerjaan sebenarnya justru dimulai setelah kontingen meninggalkan Jepang.

Lima emas harus menjadi modal untuk menyusun strategi yang lebih besar, bukan alasan untuk berhenti pada keberhasilan memenuhi target.

Pemerintah dan federasi olahraga perlu mengevaluasi cabang yang gagal menyumbangkan emas sekaligus memperkuat cabang yang menunjukkan potensi.

Regenerasi atlet juga menjadi pekerjaan mendesak.

Prestasi Rahmat Erwin, Desak Made Rita, Nurisa Dian dan para peraih medali lainnya harus diikuti dengan pencarian bibit baru sehingga Indonesia tidak mengalami kekosongan ketika generasi sekarang memasuki masa akhir karier.

Dari Target Empat Emas Menuju Target yang Lebih Berani

Asian Games Aichi-Nagoya telah ditutup.   Indonesia pulang dengan lima emas dan total 39 medali. Itu adalah pencapaian yang patut diapresiasi karena target pemerintah berhasil dilewati.  Namun, turunnya posisi dari peringkat 13 menjadi 16 tidak boleh diabaikan.

Jika target olahraga nasional hanya berhenti pada “melampaui target”, maka Indonesia berisiko terjebak dalam standar prestasi yang sama dari satu kejuaraan ke kejuaraan berikutnya.

Sebaliknya, jika hasil Aichi-Nagoya dijadikan bahan evaluasi menyeluruh, 39 medali tersebut dapat menjadi pijakan untuk membangun prestasi yang lebih besar.

Asian Games 2026 telah berakhir. Lima emas sudah berada di tangan. Kini pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia berhasil memenuhi target, tetapi apakah Indonesia mampu mengubah capaian tersebut menjadi lompatan prestasi pada Asian Games berikutnya.

jktnews.com – Mahari

Penulis

admin@jktnews

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *