Breaking News

Indonesia Kaya Ribuan Tanaman Obat, Mengapa Jamu Belum Menjadi Pilihan Utama Kesehatan Masyarakat?

WhatsApp Image 2026 11 08 At 8.45.57 AM
Paduan Suara Gema Indonesia (BInaan Guruh Soekarno Putra) dalam Dialog Kebangsaan – Dari Gagasan Menuju Kebijakan: Membangun Ketahanan Kesehatan Rakyat Melalui Edukasi Herbal Sejak Usia Dini di hotel
Bagikan
Lihat Tersimpan

Dari Gagasan Menuju Kebijakan: Membangun Ketahanan Kesehatan Rakyat Melalui Edukasi Herbal Sejak Usia Dini.

JKTNEWS – Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas yang luar biasa, termasuk ribuan jenis tanaman yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku obat tradisional dan produk kesehatan berbasis alam. Namun, kekayaan tersebut belum sepenuhnya menjelma menjadi kekuatan industri herbal yang mampu bersaing di tingkat global.

Di tengah potensi itu, muncul pertanyaan mendasar: mengapa produk herbal Indonesia belum mampu bersaing dengan China, padahal Indonesia memiliki kekayaan tanaman obat yang sangat besar? Mengapa pula sebagian masyarakat lebih percaya mengonsumsi parasetamol ketika mengalami demam atau obat modern ketika merasakan gangguan kesehatan ringan, dibandingkan memanfaatkan jamu?

Pertanyaan tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam Dialog Kebangsaan bertajuk “Dari Gagasan Menuju Kebijakan”, sebuah forum yang dirancang untuk mendorong pemanfaatan tanaman obat Indonesia sebagai bagian dari strategi membangun ketahanan kesehatan rakyat,  yang diselenggarakan pada Jumat, 6 November 2026, pukul 08.00–11.30 WIB, bertempat di Hotel The Dharmawangsa, Jakarta

Dialog ini merupakan kelanjutan dari kegiatan pertama bertajuk “Rakyat Sehat, Negara Kuat” yang diselenggarakan di Hotel Fairmont Jakarta pada 11 September 2026.

Kegiatan lanjutan tersebut memperlihatkan bahwa pembicaraan mengenai herbal tidak lagi cukup berhenti pada potensi kekayaan alam dan tradisi pengobatan masyarakat. Diperlukan langkah lebih konkret melalui edukasi, penguatan regulasi, standardisasi, penelitian, serta keterlibatan berbagai pemangku kepentingan.

WhatsApp Image 2026 11 08 At 8.42.42 AM 1
Dari Kiri ke kanan: Kepala Rumah Sakit Rehabilitasi Medik Kementerian Pertahanan RI, Brigjen TNI Dr. dr. Markus Wibowo, Sp.O.T., MARS., – Direktur Produksi dan Distribusi Kefarmasian (Prodisfar) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Ibu Dita Novianti Sugandi Argadiredja, S.Si., Apt., MM., – ⁠Ketua Tim Kerja Pengawasan Keamanan Obat Bahan Alam BPOM RI, Bapak Purnama Dwi Tistiyanto, S.Farm., Apt., M.Farm Ind.

Belajar dari China: Edukasi Menjadi Fondasi Budaya Kesehatan

Salah satu persoalan yang mengemuka dalam dialog adalah perbedaan pendekatan Indonesia dan China dalam membangun pemanfaatan tanaman obat.

Dalam pemaparan narasumber, salah satu faktor yang membuat masyarakat China lebih akrab dengan pemanfaatan tanaman obat adalah edukasi yang telah diperkenalkan sejak usia dini. Pengetahuan mengenai manfaat dan penggunaan bahan alam menjadi bagian dari pembentukan kesadaran masyarakat terhadap pilihan dalam menjaga kesehatan.

Dengan pendekatan tersebut, pemanfaatan ramuan tradisional tidak semata-mata dipandang sebagai alternatif ketika seseorang sakit. Tanaman obat juga dikenal sebagai bagian dari tradisi menjaga kebugaran dan mendukung pemeliharaan kesehatan.

Pelajaran penting bagi Indonesia adalah bahwa membangun industri herbal tidak cukup hanya dengan menanam, memproduksi, dan menjual produk. Masyarakat harus terlebih dahulu memiliki pengetahuan yang benar mengenai manfaat, keterbatasan, keamanan, serta cara penggunaan produk herbal.

Tanpa edukasi yang berkelanjutan, kekayaan tanaman obat berisiko hanya menjadi komoditas bahan baku yang nilai tambahnya dinikmati pihak lain.

Jamu Bukan Obat yang Memberikan Efek Seketika

Persoalan lain yang menarik perhatian peserta adalah persepsi masyarakat terhadap jamu.

Ketika mengalami demam, sakit kepala, atau gangguan kesehatan tertentu, sebagian masyarakat secara spontan memilih obat modern seperti parasetamol. Pilihan tersebut tidak dapat serta-merta dianggap sebagai persoalan budaya, sebab obat modern memiliki indikasi, dosis, dan kegunaan medis yang telah ditetapkan.

Namun, persoalan muncul ketika masyarakat tidak memiliki pemahaman yang memadai mengenai posisi jamu dan obat bahan alam dalam sistem kesehatan.

Jamu tidak seharusnya dipasarkan dengan persepsi bahwa seluruh produknya mampu memberikan kesembuhan secara cepat atau efek seketika. Pemanfaatan jamu harus ditempatkan sesuai karakteristik, bukti manfaat, dan kategori produknya.

Sebagian bahan alam berpotensi mendukung pemeliharaan kesehatan dan kebugaran. Akan tetapi, klaim bahwa konsumsi jamu setiap hari dapat mencegah berbagai penyakit atau menggantikan obat medis tidak boleh disampaikan tanpa dukungan bukti ilmiah yang memadai.

Karena itu, edukasi kepada masyarakat harus dibangun secara proporsional. Jamu bukan pengganti otomatis obat modern, tetapi dapat menjadi bagian dari pilihan pemeliharaan kesehatan apabila produk, mutu, keamanan, dan penggunaannya memenuhi ketentuan.

BPOM: Waspadai Produk Herbal dengan Klaim Cespleng

Dalam dialog tersebut, aspek keamanan produk herbal juga mendapatkan perhatian.

Masyarakat diingatkan agar berhati-hati terhadap produk jamu yang menjanjikan khasiat instan atau memberikan efek sangat cepat. Klaim semacam itu perlu dicermati karena tidak semua produk yang dipasarkan sebagai herbal benar-benar aman dan sesuai dengan kandungannya.

Penggunaan bahan kimia obat yang tidak semestinya dalam produk tradisional merupakan salah satu risiko yang harus diwaspadai.

Karena itu, masyarakat didorong untuk melaporkan dugaan produk bermasalah melalui kanal pengaduan resmi BPOM. Pengawasan tidak cukup hanya dilakukan pemerintah, tetapi juga membutuhkan partisipasi aktif konsumen.

Dalam konteks ini, kepercayaan masyarakat terhadap industri herbal harus dibangun melalui transparansi bahan baku, pengujian keamanan, standardisasi produksi, dan pengawasan yang konsisten.

Industri herbal nasional tidak akan berkembang secara berkelanjutan apabila kepercayaan konsumen terus dibayangi oleh produk yang tidak memenuhi standar.

Ketahanan Kesehatan Prajurit dan Rakyat Menjadi Agenda Bersama

Dialog Kebangsaan “Dari Gagasan Menuju Kebijakan” juga memiliki dimensi strategis yang lebih luas, yakni menghubungkan pemanfaatan tanaman obat dengan ketahanan kesehatan masyarakat dan prajurit.

Komitmen tersebut menjadi salah satu perhatian Rumah Sakit Rehabilitasi Medik Kementerian Pertahanan RI yang dipimpin Brigjen TNI Dr. dr. Markus Wibowo, Sp.O.T., MARS.

Dalam forum ini, Brigjen Markus bertindak sebagai moderator yang menjembatani pembahasan antara perspektif pemerintah, pengawasan obat bahan alam, serta kebutuhan pengembangan kesehatan masyarakat.

Gagasan tersebut juga melibatkan Kirbat Baru Indonesia (KBI), dengan Ketua Evert Nunuhitu, sebagai salah satu penggagas rangkaian dialog kebangsaan yang telah dimulai pada September 2026.

Komitmen kolaborasi ini menjadi penting karena ketahanan kesehatan tidak semata-mata berkaitan dengan ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan obat-obatan. Ketersediaan bahan baku, kemampuan produksi dalam negeri, penelitian, serta literasi kesehatan masyarakat juga merupakan bagian dari fondasi ketahanan nasional.

Indonesia perlu mengembangkan ekosistem herbal yang menghubungkan petani tanaman obat, peneliti, perguruan tinggi, industri, tenaga kesehatan, regulator, dan masyarakat.

Dengan demikian, tanaman obat tidak hanya menjadi warisan tradisional, tetapi juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi dan kesehatan nasional.

Edukasi Anak Menjadi Investasi Jangka Panjang

WhatsApp Image 2026 11 08 At 10.10.22 AM
Ibu Ria Agustina yang di damping Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak DKI Jakarta, Cornelia Agatha, S.H., M.H. dan Dr.dr. Endang Ernandini Sp.K.F.R.,M.S(K) MARS. sedang menjelaskan bahan jamu dan cara enggodok Jamu

Salah satu agenda penting yang mengemuka dalam dialog adalah perlunya memperkenalkan pengetahuan mengenai tanaman obat dan jamu kepada anak-anak sejak usia dini.

Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak DKI Jakarta, Cornelia Agatha, S.H., M.H.

Keterlibatan unsur perlindungan anak diharapkan dapat membuka ruang kolaborasi untuk membangun literasi kesehatan sejak usia sekolah.

Namun, edukasi kepada anak harus dilakukan secara tepat. Tujuannya bukan mendorong anak mengonsumsi jamu tanpa pengawasan, melainkan memperkenalkan kekayaan tanaman obat Indonesia, pengetahuan mengenai bahan alam, pola hidup sehat, serta pentingnya memahami keamanan produk.

Anak-anak perlu mengetahui bahwa tidak semua produk yang berlabel alami otomatis aman. Penggunaan produk herbal pada anak harus memperhatikan usia, dosis, indikasi, serta rekomendasi tenaga kesehatan.

Pendekatan edukasi semacam ini berpotensi membangun generasi yang lebih mengenal kekayaan alam Indonesia sekaligus memiliki kesadaran kritis dalam memilih produk kesehatan.

Inilah investasi jangka panjang yang sering kali luput dari pembahasan mengenai pengembangan industri herbal.

Pemerintah Sudah Memulai, tetapi Perlu Konsistensi Kebijakan

Dari sisi pemerintah, upaya memperkenalkan kembali jamu kepada masyarakat sebenarnya telah dilakukan.

Salah satunya melalui program BUDE JAMU (Bugar dengan Jamu) yang dilaksanakan Kementerian Kesehatan dengan menyediakan minuman jamu gratis di depan kantor Kementerian Kesehatan, kawasan Kuningan, Jakarta, pada kegiatan Car Free Day setiap hari Minggu.

Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk pendekatan langsung kepada masyarakat untuk memperkenalkan jamu sebagai bagian dari budaya kesehatan Indonesia.

Dalam Dialog Kebangsaan ini, hadir pula Direktur Produksi dan Distribusi Kefarmasian Kementerian Kesehatan RI, Dita Novianti Sugandi Argadiredja, S.Si., Apt., MM., serta Ketua Tim Kerja Pengawasan Keamanan Obat Bahan Alam BPOM RI, Purnama Dwi Tistiyanto, S.Farm., Apt., M.Farm Ind.

Kehadiran kedua unsur pemerintah tersebut mempertemukan dua aspek penting pengembangan herbal, yakni penguatan produksi dan distribusi kefarmasian serta pengawasan keamanan obat bahan alam.

Dialog kebangsaan ini menghadirkan kementerian, pengusaha, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan terkait.

1f7f8654 0d1c 4921 B172 Ba94b74e78f6
Dr. Prapti Utami, M.Si didapingi MC Stevie Matatula memperagakan cara ekstrak tanaman alami degan menggunakan minyak

Turut hadir Praktisi Herbal Dr. Prapti Utami, M.Si  dan memberikan peragaan sebaia edukasi bagaimana cara mengekstrak tanaman alami dengan menggunakan minyak (oil)  dan  ibu Ria Agustina bersama Dr.dr. Endang Ernandini Sp.K.F.R.,M.S(K) MARS. memberikan peragaan cara menggodok jamu yang benar.

Namun, tantangan sesungguhnya adalah bagaimana berbagai inisiatif tersebut dapat diintegrasikan ke dalam kebijakan yang berkesinambungan.

Pemerintah perlu memastikan adanya keterhubungan antara edukasi masyarakat, penelitian ilmiah, standardisasi bahan baku, pengembangan industri, perlindungan konsumen, dan akses pasar.

Tanpa koordinasi lintas sektor, berbagai program berpotensi berjalan sendiri-sendiri dan tidak menghasilkan perubahan mendasar.

Dari Dialog Menuju Peta Jalan Industri Herbal Nasional

Judul “Dari Gagasan Menuju Kebijakan” sesungguhnya mengandung pesan yang lebih besar daripada sekadar tema sebuah kegiatan.

Indonesia membutuhkan peta jalan pengembangan tanaman obat yang mampu menjawab beberapa persoalan sekaligus: bagaimana meningkatkan kualitas bahan baku, bagaimana memperkuat penelitian dan standardisasi, bagaimana membangun kepercayaan konsumen, serta bagaimana menciptakan pasar yang berkelanjutan bagi produk herbal nasional.

Langkah berikutnya perlu diarahkan pada edukasi dan literasi aktif, termasuk pengenalan tanaman obat kepada anak-anak, penguatan kolaborasi antara institusi kesehatan dan lembaga pendidikan, serta pengembangan ekosistem petani hingga industri.

Rumah Sakit Rehabilitasi Medik Kementerian Pertahanan RI bersama KBI diharapkan dapat terus mendorong gagasan ketahanan kesehatan rakyat dan prajurit tersebut melalui kerja sama lintas sektor.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan dialog bukanlah seberapa banyak pejabat, pengusaha, atau komunitas yang hadir. Ukuran keberhasilannya adalah seberapa jauh gagasan yang dibicarakan dapat diterjemahkan menjadi program, standar, kerja sama, dan kebijakan yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Indonesia tidak kekurangan tanaman obat. Yang masih harus diperkuat adalah kemampuan mengelola kekayaan tersebut menjadi pengetahuan, kepercayaan, produk berkualitas, dan industri yang berdaya saing.

Jika China mampu membangun kedekatan masyarakat dengan tanaman obat melalui edukasi dan pengembangan ekosistemnya, Indonesia seharusnya dapat belajar dan mengembangkan pendekatannya sendiri.

Sebab, ketahanan kesehatan bangsa tidak dibangun hanya ketika masyarakat jatuh sakit. Ia harus dimulai jauh sebelumnya, melalui pendidikan, kesadaran, ketersediaan produk yang aman, dan kebijakan yang berpihak pada kepentingan kesehatan rakyat.

Dari rakyat yang sehat, lahir sumber daya manusia yang kuat. Dari prajurit yang sehat, tumbuh ketahanan pertahanan. Dan dari industri herbal yang berdaya saing, Indonesia memiliki peluang memperkuat kemandirian kesehatan nasional.    https://jktnews.com- kang Oktov

 

Penulis

admin@jktnews

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *