Dari Ruang Olahraga hingga Persoalan Mobilitas, Wacana CFD Dua Hari Perlu Dirancang Lebih Cermat
Jakarta, jktnews.com — Wacana memperluas Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau Car Free Day (CFD) di Jakarta menjadi dua hari, Sabtu dan Minggu, terlihat sederhana.
Bagi kota sebesar Jakarta, kebijakan menutup ruas jalan protokol bukan sekadar persoalan menyediakan ruang bagi warga untuk berjalan kaki, berlari atau bersepeda. Di baliknya terdapat persoalan mobilitas, produktivitas ekonomi, transportasi publik, kualitas udara, aktivitas perdagangan dan hak warga menggunakan jalan.
Karena itu, rencana CFD Sabtu sebaiknya tidak berhenti pada pertanyaan apakah masyarakat setuju atau tidak. Pertanyaan yang lebih penting adalah: Apakah CFD tambahan benar-benar menghasilkan manfaat lingkungan dan kesehatan yang lebih besar daripada biaya sosial dan ekonomi yang ditimbulkannya?
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat ini masih mengkaji usulan Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat agar CFD dilaksanakan Sabtu dan Minggu.
Pramono menegaskan belum tentu kedua koridor utama—Sudirman-Thamrin dan Rasuna Said—digunakan sekaligus pada Sabtu karena pemerintah tidak ingin mengganggu aktivitas perkantoran, hotel dan pertokoan.
Artinya, pemerintah sendiri menyadari bahwa CFD adalah kebijakan yang memiliki konsekuensi terhadap aktivitas kota.
CFD Bukan Sekadar Jalan yang Ditutup
CFD Jakarta selama ini telah berkembang menjadi ruang publik yang memiliki fungsi sosial cukup besar. Warga berolahraga, komunitas berkumpul, UMKM beraktivitas dan masyarakat mendapatkan ruang terbuka di tengah kota.
Bahkan Pemprov DKI menyebut pelaksanaan CFD di Rasuna Said memberikan manfaat sebagai alternatif ruang olahraga dan ruang publik. Kehadiran koridor tersebut juga dinilai dapat mengurangi konsentrasi pengunjung di Sudirman-Thamrin.
Dengan demikian, memperluas CFD sebenarnya memiliki dasar kebijakan yang masuk akal. Masalahnya adalah di mana, kapan dan dengan desain seperti apa.
Karena menutup jalan pada Sabtu pagi tidak hanya memindahkan manusia dari kendaraan ke ruang publik. Ia juga dapat memindahkan arus kendaraan ke ruas lain.
Jika tidak dihitung dengan baik, kemacetan hanya berpindah dari satu jalan ke jalan lain.
Sabtu Tidak Sama dengan Minggu
Inilah salah satu alasan mengapa CFD Sabtu tidak bisa begitu saja meniru pola CFD Minggu. Pada Minggu, aktivitas perkantoran relatif rendah. Sebaliknya, Sabtu merupakan hari kerja bagi sebagian masyarakat.
Dalam berita detikcom, warga yang mendukung CFD Sabtu berharap adanya pilihan baru bagi mereka yang bekerja pada Minggu. Sebagian warga juga berharap rute Sabtu berbeda agar tidak terjadi kepadatan di satu lokasi.
Namun ada pula warga yang menolak karena Sabtu masih menjadi hari kerja bagi sebagian masyarakat dan penutupan jalan dikhawatirkan mengganggu mobilitas.
Perbedaan tersebut menunjukkan satu hal: Jakarta tidak memiliki satu pola waktu kerja. Ada pekerja Senin-Jumat. Ada pekerja Senin-Sabtu. Ada pekerja shift. Ada pekerja sektor jasa yang justru paling sibuk pada akhir pekan.
Karena itu, kebijakan CFD seharusnya memperhitungkan pola aktivitas kota secara lebih luas.
Jangan Sampai Kebijakan Lingkungan Menghasilkan Beban Mobilitas
Tujuan utama CFD adalah mengurangi kendaraan bermotor dan memperbaiki kualitas lingkungan. Namun efektivitasnya tidak cukup diukur dari berapa kilometer jalan yang bebas kendaraan.
Yang perlu dihitung adalah ke mana kendaraan tersebut bergerak ketika ruas utama ditutup. Jika ribuan kendaraan hanya berpindah ke jalan alternatif, maka manfaat pengurangan emisi harus dihitung secara lebih hati-hati.
Di sisi lain, jika masyarakat yang biasanya menggunakan kendaraan pribadi justru beralih ke transportasi publik karena adanya CFD, dampaknya bisa lebih positif.
Karena itu, CFD idealnya tidak berdiri sendiri. Ia harus terhubung dengan: CFD → transportasi publik → berjalan kaki → bersepeda → pengurangan kendaraan pribadi → kualitas udara yang lebih baik. Tanpa rantai tersebut, CFD berisiko menjadi sekadar kegiatan rekreasi mingguan.
Transportasi Publik Harus Menjadi Bagian dari Desain
Inilah pekerjaan rumah terbesar jika CFD Sabtu benar-benar diterapkan. Pemprov DKI harus memastikan bahwa warga yang datang maupun warga yang terkena dampak penutupan jalan mempunyai alternatif transportasi yang memadai.
Pengalaman Jakarta dalam mengelola kegiatan besar menunjukkan bahwa rekayasa lalu lintas, rute alternatif, parkir dan penyesuaian layanan transportasi publik menjadi bagian penting dari keberhasilan suatu kegiatan di ruang jalan.
Karena itu, CFD Sabtu seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat integrasi: MRT – TransJakarta – LRT – KRL – jalur sepeda – trotoar – kawasan CFD.
Jika warga dapat meninggalkan kendaraan pribadi di rumah karena transportasi publik mudah, aman dan nyaman, manfaat CFD menjadi jauh lebih besar.
Bagaimana dengan Pekerja Sabtu?
Kekhawatiran warga yang bekerja pada Sabtu juga tidak boleh dianggap sebagai suara minoritas. Jakarta adalah pusat pemerintahan, bisnis, jasa, perdagangan dan ekonomi kreatif.
Jalan protokol bukan hanya ruang olahraga. Di sepanjang koridor tersebut terdapat kantor, hotel, restoran, pusat perdagangan dan berbagai kegiatan ekonomi.
Karena itu, penutupan jalan pada Sabtu harus mempertimbangkan jam operasional kegiatan ekonomi. Salah satu opsi yang dapat diuji adalah CFD Sabtu dengan waktu lebih pendek dibandingkan Minggu.
Misalnya, CFD Sabtu dilaksanakan pada pagi hari dan berakhir lebih awal sehingga tidak mengganggu aktivitas ekonomi yang mulai meningkat menjelang siang.
Usulan semacam ini bahkan sejalan dengan masukan warga yang dikutip detikcom, yang menginginkan CFD Sabtu tidak berlangsung selama CFD Minggu.
Mengapa Tidak Menguji Dulu?
Daripada langsung menetapkan CFD Sabtu secara permanen, Jakarta dapat melakukan pilot project selama beberapa bulan.
Misalnya tiga bulan. Kemudian pemerintah mengukur: jumlah peserta; perubahan volume kendaraan; kecepatan lalu lintas di ruas alternatif; penggunaan transportasi publik; kualitas udara; aktivitas UMKM; omzet usaha di sekitar kawasan; keluhan warga; dampak terhadap pekerja; volume sampah; serta biaya pengamanan dan rekayasa lalu lintas.
Dengan data tersebut, keputusan tidak lagi berdasarkan perdebatan “setuju” dan “tidak setuju”. Keputusan dibuat berdasarkan evidence.
CFD Bisa Menjadi Laboratorium Kota
Jika dirancang dengan benar, CFD Sabtu sebenarnya dapat menjadi lebih dari sekadar acara olahraga. Ia dapat menjadi laboratorium kebijakan kota. Jakarta bisa menguji bagaimana masyarakat merespons ruang publik tanpa kendaraan.
Pemerintah dapat mengukur apakah masyarakat bersedia meninggalkan kendaraan pribadi. Transportasi publik dapat diuji kapasitasnya. UMKM dapat memperoleh ruang ekonomi. Komunitas dapat memperoleh ruang aktivitas. Dan pemerintah mendapatkan data mengenai hubungan antara mobilitas, kesehatan dan kualitas udara.
Dengan pendekatan tersebut, CFD tidak lagi sekadar “hari tanpa kendaraan”. Ia menjadi eksperimen menuju kota yang lebih manusiawi.
Jangan Mengejar Banyak Hari, Kejar Dampak
Ada kecenderungan dalam kebijakan publik untuk menganggap bahwa semakin banyak kegiatan berarti semakin besar manfaat. Belum tentu. Dua hari CFD tidak otomatis dua kali lebih baik daripada satu hari.
Jika desainnya buruk, dua hari justru dapat berarti dua kali lipat biaya pengaturan lalu lintas, dua kali potensi gangguan mobilitas dan dua kali persoalan kebersihan.
Sebaliknya, jika dirancang berbasis data, satu hari tambahan dapat menghasilkan manfaat kesehatan, sosial dan lingkungan yang jauh lebih besar.
Karena itu ukuran keberhasilan bukan: “Berapa hari CFD diselenggarakan?” Melainkan: “Berapa besar perubahan perilaku dan kualitas lingkungan yang berhasil diciptakan?”
Jakarta Membutuhkan Ruang Publik, Tetapi Juga Membutuhkan Kota yang Bergerak
Wacana CFD Sabtu pada akhirnya memperlihatkan dilema klasik sebuah kota metropolitan. Warga membutuhkan ruang untuk hidup sehat. Tetapi warga juga membutuhkan jalan untuk bekerja.
Masyarakat membutuhkan udara yang lebih bersih. Tetapi ekonomi membutuhkan mobilitas. Komunitas membutuhkan ruang publik. Pelaku usaha membutuhkan akses pelanggan dan logistik. Semua kepentingan tersebut sah.
Karena itu, kebijakan yang baik bukan kebijakan yang memenangkan satu kelompok dan mengorbankan kelompok lain.
Kebijakan yang baik adalah kebijakan yang mengatur keseimbangan kepentingan tersebut.
CFD Sabtu Layak Dicoba, Tetapi Jangan Terburu-buru
Secara prinsip, penambahan CFD pada Sabtu layak diuji. Terutama bagi warga yang tidak memiliki kesempatan menikmati CFD pada Minggu. Namun, implementasinya sebaiknya tidak langsung permanen.
Uji coba, ukur, evaluasi, lalu putuskan.

Pemerintah dapat memilih satu koridor terlebih dahulu, menetapkan jam yang lebih pendek, menyiapkan transportasi publik dan rute alternatif, kemudian melakukan evaluasi terbuka.
Jika terbukti mampu meningkatkan aktivitas fisik warga, memperbaiki kualitas udara, mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan tidak mengganggu kegiatan ekonomi secara signifikan, CFD Sabtu dapat diperluas.
Jika ternyata manfaatnya kecil sementara biaya sosialnya besar, desainnya harus diperbaiki. Sebab Jakarta tidak kekurangan kebijakan. Yang dibutuhkan Jakarta adalah kebijakan yang dapat dibuktikan manfaatnya.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang CFD Sabtu bukan sekadar: “Apakah warga mau?”Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: “Apakah Jakarta mampu mengubah satu ruas jalan bebas kendaraan menjadi ruang publik yang benar-benar membuat warganya lebih sehat, mobilitasnya lebih efisien dan kotanya lebih layak dihuni?”
Jika jawabannya ya, CFD Sabtu bukan sekadar tambahan hari. Ia bisa menjadi bagian dari perubahan cara Jakarta merancang sebuah kota: dari kota yang berpusat pada kendaraan menjadi kota yang lebih berpusat pada manusia.
jlknews – Mishella Widyani





Tinggalkan Balasan